PERBEDAAN ZAKAT, INFAQ, DAN SHODAQOH

Posted by:

12646858204_80efb4bf5d_oPERBEDAAN ZAKAT, INFAQ, DAN SHODAQOH

A.ZAKAT

Zakat secara bahasa(lughoh),berarti :tumbuh,berkembang dan berkah dan dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan.seorang yang membayar zakat karena keimananya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak.Allah SWT berfirman :

خذ من أموالهم صدقة تطهّرهم وتزكّيهم بها وصلّ عليهم إنّ الصّلوتك سكّان لهم والله سميع عليم

”pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS.At-taubah.103).

sedangkan menurut terminologi syari’ah (istilah syara’) zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas jumlah sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu. Zakat juga berarti derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah, dan waktu suatu kekayaan atau harta yang wajib diserahkan. Atau  Zakat adalah nama dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu (nishab) yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (QS. 9:103 dan QS. 30:39).

Ulama hanafiah mendefinisikan zakat dengan menjadikan hak milik bagian harta tertentu dan harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan oleh syari’ karena allah demikian halnya menurut mazhab imam syafii zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan secara khusus. Sedangkan menurut imam hanbali zakat adalah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula, yaitu kelompok yang disyaratkan dalam alquran zakat mempunyai fungsi yang jelas untuk mensucikan atau membersihkan harta dan jiwa pemberinya.

Tujuan zakat (1):
* Membersihkan :
1. membersihkan jiwa orang yang memiliki kelebihan harta dari kekikiran
2. membersihkan hati fakir miskin dari sifat iri dan dengki
3. membersihkan masyarakat dari benih perpecahan
4. membersihkan harta dari hak orang lain
Tujuan zakat (2):
* Mengembangkan :
1. mengembangkan kepribadian orang yang memiliki kelebihan harta dari eksistensi moralnya
2. mengembangkan kepribadian fakir miskin
3. mengebangkan dan melipatgandakan nilai harta
4. sarana jaminan social dalam islam
5. sarana mengurangi terjadinya kesenjangan social

Landasan kewajiban zakat
1. QS. At-taubah 103:
“ ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”
2. hadis:
“ islam dibangun atas lima rukun : syahadah, menegakkan solat, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dan puasa di bulan ramadhan”
3. ijma’:
“ para ulama salaf (ulama klasik) ataupun ulama kholaf ( kontemperer) sepakat akan wajibnya zakat.
B. INFAQ

Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat infaq berarti mengeluarkan sebagian harta atau pendapatan/ penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ialam. Jika zakat ada nishab. Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia disaat lapang maupun sempit (QS.3:134). Jika zakat harus diberikan kepada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya untuk kedua orang tua, anak yatim, dan sebagainya (QS.2:215).

Infaq adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang setiap kali ia memperoleh rizki, sebanyak yang ia  kehendakinya. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, berapa jumlah yang sebaiknya diserahkan. Terkait dengan infaq ini rasulullah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdoa setiap pagi dan sore: “ ya allah berilah orang yang berinfaq, gantinya. Dan berkata yang lain :” ya allah jadikanlah orang yang menahan infaq, kehancuran.(HR.Bukhari)

Infaq terbagi menjadi dua macam: (1) Infaq wajib : seperti zakat, nadzar. (2) Infaq sunah: seperti memberikan pertolongan dan memberikan suatu barang. Ketentuan berinfaq yaitu Infaq wajib : bentuk dan jumlah pemberiannya telah ditentukan. Sedangkan Infaq sunah: tidak ada ketentuan dalam bentuk dan jumlah pemberiannya, terserah kepada pertimbangan dan keikhlasannya. Dan manfaat dari berinfaq yaitu untuk mengharap ridha allah dan melatih diri.

Firman allah SWT: yang artinya
………. Dan tetaplah kamu berinfaq untuk agama allah, dan janganlah kamu menjerumuskan diri dengan tanganmu sendiri ke lembah kecelakaan ( karena menghentikan infaq itu). (QS. Al-baqarah)
Sabda rasulullah SAW:

Dari Abu Musa Al- Asyari R.A. dari nabi muhammad SAW bersabda, “ tiap-tiap muslim haruslah besedekah”. Sahabat  bertanya “ bagaimana kalau dia tidak mampu Ya Rasulullah?” nabi menjawab “ dia harus berusaha dengan kedua tangan (tenaga)nya hingga berhasil untuk dirinya dan bersedekah” sahabat bertanya “ bagaimana kalau dia tidak mampu?” nabi menjawab “ menolong orang yang mempunyai kebutuhan dan keluhan” sahabat bertanya “ bagaimana kalau dia tidak mampu?” nabi menjawab “ dia melakukan perbuatan baik atau menahan dirinya dari perbuatan munkar (kejahatan) itupun merupakan shadaqah baginya”.

  1. SHADAQAH

Sedekah berasal dari kata shadaqah yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Adapun secara  terminologi syariat shadaqah makna asalnya adalah tahqiqu syai’in bisyai’i, atau menetapkan atau menerapkan sesuatu pada sesuatu. Sikapnya sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tetentu dalam pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu, dan kadarnya. Atau pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang-orang miskin setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan jumlah, jenis maupun waktunya. Sedekah tidak terbata pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat  bagi orang lain. Bahkan senyuman yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah. Shadaqah mempunyai cakupan yang luas dan digunakan al-quran untuk mencakup segala jenis sumbangan.

Shadaqah merupakan pemberian seorang muslim kepada orang lain (baik muslim maupun non muslim). Sedekah berarti memberi derma, termasuk memberikan derma untuk mematuhi hukum dimana kata zakat digunakan didalam al-quran dan sunah. Kata zakat disebut pula sedekah karena zakat merupakan sejenis derma yang diwajibkan sedangkan sedekah adalah sukarela. Zakat dikumpulkan oleh pemerintah sebagai suatu  pungutan wajib, sedangkan sedekah lainnya dibayar secara sukarela. Jumlah dan nishab zakat ditentukan sedangkan jumlah sedekah yang lainnya sepenuhnya tergantung keinginan yang menyumbag.

Pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja shadaqah mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan infaq. Jika infaq dikaitkan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat nonmateriil. Shadaqah ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh waktu dan juga yang tidak terbatas pada materi tetapi tetapi juga dalam bentuk non materi. Misalnya menyingkirkin rintangan di jalan, menuntun orang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis kepada sudaranya, menyalurkan syahwatnya kepada istrinya. Dan shadaqah adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang.

Hadits   riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, rasulullah mengatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami istri, atau melakukan kegiatan amr ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.

Dalam hadits rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda:” setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap amr ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar adalah shadaqah dan menyalurkan syahwat kepada istri adalah shadaqah”.(HR. Muslim)

Zakat, infaq dan shadaqah merupakan kebuktian iman kita kepada allah dan sesama muslim yang membutuhkannya. Kalau kita melihat dari penggunaan ayat-ayat al-quran istilah shadaqah, zakatdan infaq sebetulnya menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, infaq dan shadaqah memiliki persamaan dalam peranannya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan.

CARA MENGHITUNG ZAKAT

  1. ZAKAT BARANG DAGANGAN

Contoh:

Bu Zaenab adalah seorang pedagang mainan anak di Pasar Turi, Surabaya. Pada moment tertentu, misalnya menjelang Lebaran dan libur sekolah, Bu Zaenab memperoleh banyak pendapatan. Namun pada hari-hari biasa pendapatannya tidak melonjak.

Bagaimana cara menghitung zakat perniagaan dengan omset naik-turun demikian? Kapan waktu yang tepat untuk membayar zakat perniagaan?
Penyelesaian:

Untuk menghitung besarnya zakat barang dagangan maka pijakan kita adalah pada nisab yang berlaku bagi barang perniagaan, yaitu sebesar harga 85 gram emas murni. Setiap usaha pasti memiliki jurnal keuangan yang berupa laporan laba-rugi tahunan.

Jika pada saat akhir tahun, yaitu ketika tutup buku, Bu Zaenab mendapatkan jumlah kekayaan barang dagangan mencapai nisab, maka dia wajib berzakat. Besarnya zakat barang dagangan adalah 2,5% dari total kekayaan.
Misalkan jumlah uang tunai, uang yang disimpan di bank dan barang dagangan mainan yang dimiliki Bu Zaenab adalah Rp 85 juta, maka perhitungan zakat tersebut adalah sebagai berikut:
Harga emas per gram saat ini (misalnya) = Rp 400.000,-
Nisab 85 gram emas = 85 x Rp 400.000 = Rp 34.000.000,-
(Dalam contoh kasus ini, Rp 34 juta adalah batas nisab zakat perniagaan)
Karena kekayaan yang dimiliki Bu Zaenab sebesar Rp 85 juta dan telah mencapai nisab zakat, maka besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah:
2,5% x Rp 85.000.000,- = Rp 2.125.000,-
Jadi, pada saat Bu Zaenab melakukan tutup buku pada akhir tahun, besar zakat perniagaan yang wajib dibayarkan adalah Rp 2.125.000,- Pembayaran zakat hendaknya dilakukan pada waktu segera setelah tutup buku.

  1. ZAKAT PERTANIAN
  1. Pak Ali adalah seorang petani. Pada musim tanam ini, ia menanami sawahnya dengan padi. Ketika panen tiba, sawahnya menghasilkan padi yang cukup banyak. Setelah ditimbang, didapatkan gabah sebanyak 1300 kg. Menurut hukum fiqih, Pak Ali terkena kewajiban zakat karena penghasilannya sudah mencapai nisab yang disyaratkan yakni 1125 kg gabah. Jika sawahnya diairi oleh air hujan atau air sungai, maka ia wajib membayar zakat sebesar 10% yaitu 130 kg gabah. Jika airnya diperoleh dengan cara membeli, menggunakan mesin diesel dll, maka kewajiban zakatnya hanya separuhnya (5 %) sebanyak 65 kg gabah.
  2. Pak Umar juga seorang petani. Pada musim penghujan (rendeng), ia menanam padi dan menghasilkan gabah ketika panen sebanyak 1000 kg gabah. Jika satu musim, tentu tidak akan mencapai nishab. Lalu, Pada musim kemarau (gadu), ia menanam padi lagi di sawah dan menghasilkan 600 kg gabah. Menurut hukum fiqih, dalam setahun, hasil panen Pak Umar harus digabungkan. Ternyata jumlah sebanyak 1600 kg gabah, sudah mencapai nishab. Pak Umar pun wajib membayar zakat . Jika sawahnya diairi oleh air hujan, sungai, maka ia wajib membayar zakat sebesar 10% yaitu 160 kg gabah. Jika airnya diperoleh dengan cara membeli, menggunakan mesin diesel dll, maka kewajiban zakatnya hanya separuhnya (5 %) sebanyak 80 kg gabah.
  3. Pak Budi hanyalah petani kecil. Pada musim penghujan (rendeng), ia menanam padi dan ketika panen tiba, menghasilkan gabah sebanyak 500 kg gabah. Jika satu musim, tentu tidak akan mencapai nisab. Lalu, Pada musim kemarau (gadu), ia menanam padi lagi di sawah dan menghasilkan 200 kg gabah. Dalam setahun, penghasilan panennya dijumlahkan sebanyak 700 kg, tetap tidak mencapai nishab yang disyaratkan dalam ilmu fiqih. Jadi Pak Budi tidak terkena kewajiban zakat. Namun ia boleh bershodaqoh menurut kemauannya sendiri.